Senin, 11 Januari 2010

Fingerboard Si Skateboard Mini

Fingerboard Tak Sekedar Hobi

Jemari-jemari pemuda ini lincah memainkan sebuah benda kecil dengan alas buku dibawahnya. Dia asik sendiri tanpa memperdulikan hiruk pikuk disekelilingnya. Apa yang dia lakukan?

Denny, begitu ia biasa dipanggil, sedang memanfaatkan waktu sebelum perkuliahannya dimulai. Ia asik bermain sebuah papan kecil yang ternyata bernama fingerboard. Fingerboard adalah permainan miniature skateboard namun dimainkan dengan jari tangan.

Ternyata fingerboard sudah terkenal di benua Amerika. Namun belum lama masuk ke Indonesia dikalangan para pecinta skateboard. Sekitar tahun 1999 komunitas fingerboard mulai berkumpul. Memanfaatkan situs jejaring facebook, permainan ini kemudian perlahan berkembang. Dari sinilah mahasiswa Komunikasi Massa UI, Denny Aditias mengenal fingerboard.

Sebenarnya permainan semacam ini tidak asing bagi Denny. Saat masih duduk di SMP, mahasiswa berusia 22 tahun ini pernah tertarik untuk menekuni skateboard. Namun karena Aberbahaya keluarganya pun urung mengizinkannya bermain skateboard. Alih-alih mendapat skateboard, ia malah diberi gantungan kunci miniatur skateboard oleh kakaknya. Tidak disangka kelak skateboard mini menjadi permainan yang asyik. Denny bercerita, “Saya sempat lupa sama skateboard. Tetapi Agustus kemarin nggak sengaja ngelihat facebook teman yang hobi bermain fingerboard. Lalu setelah itu saya mencari info tetang fingerboard di internet”.

Meski demikian bukan berarti gantungan kunci itu bisa dimainkan. Fingerboard adalah papan khusus yang dibuat dengan material sama dengan skateboard. Hanya ukurannya disesuaikan dengan ukuran jari manusia. Panjangnya 96 milimeter. Akan tetapi lebarnya berbeda-beda tergantung jenisnya. Ukuran lebar standar 27 milimeter, wide 28 milimeter dan extra wide 29 milimeter.

Menurut Denny saat ini untuk mendapatkan fingerboard dilakukan dengan menitip teman dari Amerika Serikat. Karena di Indonesia dirinya belum bisa menemukan pembuat fingerboard yang hasilnya berkualiatas dan tahan lama. Harga satu fingerboard berkisar antara 5 sampai 35 dolar. “Saya sudah punya 3 fingerboard tapi sekarang sedang memesan 6 fingerboard lagi”, tambah Denny.

Ternyata permainan fingerboard memiliki trik-trik yang sama dengan skateboard. Ada trik dasar seperti Ollie, Nollie, Switch, Fakie. Kemudian ada Flip dengan jenis treflip, kickflip. Ada juga Sliding dan Grinding.

Fingerboard pun menggunakan skatepark dan obstacle atau halangan layaknya skateboard. Namun lagi-lagi ukurannya juga mini. Tetapi jika tidak ada, halangan apapun juga bisa digunakan. Mulai dari buku, meja, hingga tangga pun tak luput dari perhatian. Dalam skateboard orang mengenalnya dengan streetstyle.

Bagi komunitas fingerboard tantangan menguasai trik-trik menggunakan jemari tangan begitu menarik apalagi jika bisa melewati obstacle seperti halfpipe. Namun bagi orang awam yang baru melihat permainan ini, rata-rata pasti mengernyitkan dahi. “Kalau ditanya asiknya itu ibarat kita makan manis kemudian ditanya rasanya bagaimana. Jadi kalo mau tau ya harus mencoba”, jelas Denny.

Jika ingin bergabung dengan komunitas fingboard tidak sulit. Karena menurut Denny komunitas fingerboard ini bisa ditemukan di Skate Shop di Bulungan, Blok M. Di kawasan Pondok Indah pun ada komunitas yang menamakan dirinya Kopaja atuu Komunitas Papan Jari Pondok Indah. “Di luar Jakarta ada komunitas di Bogor, Pontianak juga Medan”, kata Denny.

Denny bermimpi suatu saat nanti ia bisa keliling dunia karena fingerboard seperti Elias Asmuth, seorang master fingerboard dari Austria. “Hobi ini ada gunanya. Kalau sudah jago bisa menggandeng sponsor”, tutur Denny. Kini Denny bertekad untuk terus mengembangkan kemampuannya kemudian membuat video yang akan diposting di internet untuk menarik perhatian komunitas fingerboard di luar negeri.

Ternyata hobi bermain fingerboard bisa juga mendatangkan prestasi. Tidak ada salahnya menekuni hobi seperti ini. Selain menjauhkan anak muda dari kegiatan negatif seperti memakai narkoba, juga bisa memacu diri untuk terus berkreasi.

2 komentar:

M. Alam Nugraha mengatakan...

jadi inget masa lalu
andai.. tulisan ini jadi satu paket liputan dulu di Sportalase.... heee.....
di bandung juga ada no kalo dulu mah seinget saya di charlie skateshop Cihampelas.. itu jadi media alternatif buat anak skate yg selalu gagal trick ahirnya pelariannya fingerboard... ternyata sekarang perkembanganya jadi lebih pesat yah.....

eno niy mengatakan...

wakaka...iya...gw dah lama gak ngisi blog lagi..Habis sibuk kuliah n kerja,..eh sekarang nganggur lagi..Back to ngeblog lagi deh..

Poskan Komentar

 
Template designed using TrixTG