Jumat, 15 Juli 2011

Vihara Dharma Bhakti: Rumah Dewi Kuan Im

Banyaknya pengemis yang mengulurkan tangannya di pelataran, tidak lantas membuat Vihara Dharma Bhakti kehilangan keindahannya. Vihara yang didominasi warna merah beraksen kuning ini, membuka mata kami untuk menelusuri bangunannya hingga ke dalam. 


Bau asap dan wangi dupa menyambut kedatangan kami di Vihara Dharma Bhakti, salah satu kelenteng tertua di Jakarta. Vihara yang mempunyai nama lain yakni Kim Tek Ie atau Jin De Yuan ramai dikunjungi warga Tionghoa karena merupakan rumah Dewi Kuan Im. Kim Tek Ie dibangun pada tahun 1650, terletak di Petak Sembilan, dekat Glodok, Jakarta Barat. Kelenteng ini pernah hancur sebagian saat pembantaian warga Tionghoa pada tahun 1740 dan diperbaiki tahun 1890.

Seorang kakek etnis Tionghoa menegur kami dan mempersilahkan kami untuk masuk ke Vihara. "Silahkan. Lu masuk aja nggak papa. Di sini, mau agama Budha, Konghucu, Kristen, atau Islam diterima. Boleh masuk semua," ujarnya saat melihat kami sedikit  ragu karena salah seorang dari kami mengenakan jilbab.

Dengan ramah, kakek tersebut mengantar kami hingga ke pintu Vihara. Pandangan kami langsung tertuju pada meja sembahyang yang terdapat patung seorang dewa. "Bisa dibilang itu Dewa Anak-anak atau Dewa Ketawa," kata seorang laki-laki yang sedang bekerja merapihkan tumpukan kertas di samping kami. Lebih dari 10 menit kami terpaku memandangi meja sembahnyang tersebut, sambil memperhatikan cara orang-orang Tionghoa berdoa. Ada yang memegang Hio sambil membungkuk, ada yang mengelus-elus wajah dan perut patung dewa, ada pula yang memberi makanan, bunga, hingga uang.



"Foto-foto aja. Nggak apa-apa. Nggak usah takut," ujar seorang laki-laki yang juga bekerja di sana. Ternyata kedatangan tamu bukan warga Tionghoa sudah biasa bagi mereka. Vihara yang menjadi cagar budaya di Jakarta ini sering dikunjungi wisatawan baik domestik, maupun wisatawan asing.

Salah seorang pengurus vihara, Herman, mengatakan bahwa jika ada wisatawan dari Cina datang ke Jakarta maka belum afdol jika belum menginjak Vihara Dharma Bakti. "Lambang kota Jakarta ya Vihara Dharma Bhakti," kata Herman waktu itu.


Vihara Dharma Bhakti cukup luas. Setelah memasuki kelentang utama yang di dalamnya terdapat beberapa patung dewa seperti Dewi Kuan Im, dan beberapa dewa lainnya, kami berjalan keluar dari pintu yang ada di sebelah kiri. Ternyata ada beberapa lagi meja sembahyang yang disebut kedudukan. Ada 15 kedudukan di sana, dengan dewa yang berbeda-beda.











Kunjungan ke Vihara Dharma Bhakti ini masih terasa kurang, karena kami belum dapat menggali sejarah budaya dan agama masyarakat Tionghoa di sini. Oleh karena itu kami berencana untuk kembali mengunjungi Vihara Dharma Bhakti pada waktu-waktu sembahyang tertentu seperti Cap Go yang bulan ini jatuh pada tanggal 15 Juli 2011.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Template designed using TrixTG