Minggu, 31 Oktober 2010

Batik di Pameran Indocraft

Bau khas kain batik langsung tercium, saat memasuki Cendrawasih Hall, JHCC, Senayan. Jakarta. Riuh ramai suara para pengunjung yang sedang tawar-menawar dengan pemilik stand pameran, makin menyemarakkan suasana.

Ya, sejak tanggal 27 Oktober hingga 31 Oktober, sebagian hall di JHCC diisi dengan berbagai pameran kerajinan khas Indonesia dalam Indocraft 2010. Pameran Indocraft 2010 ini didominasi oleh kerajinan Batik khas Indonesia. Berbagai kain batik dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi disuguhkan bagi para pengunjung. Tak ketinggalan berbagai kain khas warisan budaya Indonesia lainnya seperti kain songket, dan sebagainya.




Batik kini memang menjadi primadona di tanah air. Pengunjung dari berbagai kalangan, hadir di Indocraft untuk berburu Batik, mulai dari harga Rp 40.000 hinga jutaan rupiah. Stand batik yang ada di Indocraft sebagian besar diisi oleh mereka yang memang sudah sering mengikuti pameran. Contohnya Batik Antik Marsiyah dan Batik Ibu Soedalmi dari Jogja. 

Ternyata banyak pengunjung yang sudah saling mengenal dengan Ibu Marsiyah dan Ibu Soedalmi. Mereka sudah menjadi langganan dengan kedua pengerajin batik yang juga membuka kios di Pasar Bringharjo ini. "Biasanya mereka minta dikirim minimal 50 kain batik setiap bulannya," ujar Nunik, salah satu penjaga di Batik Ibu Soedalmi. 


Para pengusaha pakaian batik di Jakarta, ternyata banyak mendapat suplai kain dari mereka. Nunik berkata bahwa bagi yang berminat untuk usaha, bisa menghubungi mereka dengan minimal pembelian 30 kain. Berminat? 



Minggu, 24 Oktober 2010

One Wed, Two Brides, Two Grooms, Three Couples Parents

Have you ever see two brides, two grooms, and 3 couples of parents on one stage? Well, I did. It was my BFF wedding. It was unique. And almost all the guest also had a same comment.

My BFF weds celebrate at the same day, same time, and same place with her younger sister. And they both looks like twins. They use Palembang traditional wedding ceremony that I never watch before. Love the color and the ambience.


Senin, 30 Agustus 2010

Personal Make Up Lesson with Lovely Arty

I am very happy today because I got Personal Make Up Lesson by mba Arty. She teached me various make up technique, product knowledge, and also my face character. Here's the pics.









Minggu, 29 Agustus 2010

Did you stole anything from the hotel room?

Did you ever took anything from the hotel room? Small thing like towel or little glass? If you did, then stop it. Because I just find out that if we took it and aint pay for it, then the housekeeper is to blame.

You dont believe me? Here is the proof.


I dont know whether all hotels in Jakarta apply this regulation to their employee. But if yes, then we will make a big trouble for them.

Bazaar Art Jakarta 2010

I am back..
Well I have a lot stories and pics to share. But, somehow I just didn't find the mood to upload it until now.

These are the pics that I took from Bazaar Art Jakarta 2010, Juli 30 - Aug 1. There are many masterpiece from many artist that was stunning.





 I like this one created by Dian Ariayni. I like the concept very much. She captured what became addiction to society nowadays and put it as the titles of the books. Society addiction to brand has becoming like reading a book. The Brand is the books of the knowledge. She has insinuated us by showing this photo.

The Brand by Dian Ariayni


Although I do not really understand about an art, I still fallin in love with this painting by Deddy PAW. He tell through his book that he has big interest in Apple. This fruit has became his inspiration. I could not turn my attention from this painting called The Spirit of Life. The painting is very beautiful, detailed and full of passion. This is definitely my fav.

The Spirit of Life by Deddy PAW



So, this not related to the art actually. But I like it when there were a kid standing looking at Jacko's collage panting. Too bad I got soft picture, because he move so fast when realized that I took his pic.

King of Pop by Syaiful A. Rachman

This is funny photo. In the middle of art exhibition there are two woman taking pic each other. And this "art" enjoyed buy an old man ;p

I'll come again next year, hoping with better understanding of art. ;p

Kamis, 05 Agustus 2010

Tempat Beli Kacamata Hitam: Optik Gaya Baru

Kacamata hitam atau sunglasses adalah alat pelindung dari sinar matahari sekaligus asesoris penambah gaya. Mau cari yang murah meriah banyak. Mau cari yang mahal dan branded juga ada. Tetapi kalau kacamata murah yang dijuluki cengdem alias seceng adem bisa dimana saja, tidak demikian dengan kacamata branded.
Pilihan tempat untuk membeli sunglasses branded yang asli memang cukup terbatas. Standarnya kita akan datang ke optik-optik terkemuka seperti Optik Seis, Optik Melawai, Optik Tunggal, dan lain-lainnya. Namun tentu saja harga yang ditawarkan optik-optik tersebut cukup mahal. Jika di website sunglasses branded dibanderol dengan harga $99, bisa-bisa harga yang dipatok di Optik tersebut mencapai Rp 1.700.000,-.
Setelah melakukan survey, ternyata harga di optik-optik besar ini relatif sama. Kemudian pilihan untuk membeli kacamata jatuh ke ITC Kuningan, yang memang merupakan tempat cukup dikenal dengan kacamata berharga miring. Toko yang cukup mendapat rekomendasi positif adalah Optik Gaya Baru, di LT 1 blok B 8. Tempatnya mudah di jangkau. Naik ke Lt 1 dari eskalator utama, langsung ke kiri. Optik Gaya Baru ada di belakang optik yang menghadap ke arah tangga.


Sales asistennya melayani dengan sangat ramah. Mereka mengeluarkan semua koleksi sesuai kriteria yang kita inginkan. Sales asisten yang bernama Rini membantu dengan baik dan sabar saat pelanggan kebingungan untuk menentukan pilihan dan membutuhkan waktu lama untuk berpikir. 

Rini & Eno
Kacamata asli Ray Ban Aviator 3025 Polarized terbaru misalnya, bisa didapatkan dengan harga Rp 1.900.000,-. Padahal di optik terkemuka harga kacamata aviator tersebut lebih dari Rp 2 juta.
Sedangkan Ray Ban Wayfarer 2140 Special Series dihargai Rp 1.600.000,-. Sementara di optik ternama harganya berkisar antara Rp 1.7 juta hingga Rp 1.9 juta.
Optik Gaya Baru bisa mengurangi harga jika pelanggan membeli dua buah kacamata. Ray Ban Aviator 3025 Polarized dan Wayfarer 2140 Special Series yang terbaru diberikan dengan total harga Rp 3.200.000,-.   

Harga yang miring bukan? Jangan takut jika sunglasses ini palsu. Optik Gaya Baru merupakan Authorized Dealer dengan jaminan 10 kali lipat pengembalian uang apabila ditemukan kepalsuan. 
Selain itu, Sales Assistant lainnya,  Eno, langsung menyetel gagang kacamata setelah tawar-menawar usai dan langsung bisa pas menempel ke hidung dan ke telinga.
Jadi jika ingin membeli kacamata baik sunglasses atau eyeglasses, coba lihat dulu di optik terkemuka, kemudian datang ke Optik Gaya Baru untuk membandingkan harga. Dan jangan lupa untuk menawar ;p.

Rabu, 04 Agustus 2010

Cute Toilet

I go to the Mall Taman Anggrek many times . However, this is the first time I noticed that there is very interesting toilet design. Luxury impressed. There are some malls that provide a comfortable toilets for visitors. But I really like the furniture of this one
Toilet @ Mall Taman Anggrek

Senin, 26 Juli 2010

Lumix LX3 Shot

I just bought new camera Lumix DMC LX3. I am in love with this prosumer camera since the first time I saw the result on photography forum. So, I decided to bought this camera because I feel more comfortable with small camera body than the big one like DSLR. One day, I got a good moment to captured when I brought Canon 500D. But, when I pulled out my camera, there are some men looking at it. It was attract many people attention. And I was afraid that somebody will follow me to rob the camera. Moreover it is very prone areas.

But it will different if I carrying a small camera. People familiar with the small camera, and will not be too concerned when I use it. 

Oh, I gave her name. My LX3 name is Lexi.
So here is the Lexi result of taking a small ant on the leaf at the front yard of my house. 


Makan yang banyak biar cepat besar...





Kereta oh Kereta,,,


"Kereta ekonomi mengakhiri perjalanan di stasiun Depok Lama, untuk kembali ke depo karena mengalami kerusakan"

Ini sudah menjadi hal yang sangat biasa bagi para penumpang kereta ekonomi listrik jurusan Jakarta-Bogor. Kereta terlambat, rangkaian diperpendek atau diturunkan di tengah perjalanan dengan alasan kereta rusak, merupakan seribu alasan yang menandakan betapa penumpang kereta ekonomi yang notabenenya rakyat kecil akan selalu dipinggirkan.

Sabtu, 24 Juli 2010 pukul 20.30, kereta ekonomi yang baik-baik saja tiba-tiba dinyatakan rusak dan harus kembali ke depo. Padahal kereta berjalan lancar-lancar saja. Siapa yang percaya kalau kereta rusak? Tetapi toh penumpang yang telah memberi karcis atau abundemen tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk memaksa PT KAI terus melajukan kereta hingga stasiun tujuan di Bogor. Akhirnya ya harus pasrah dan kembali menunggu sambil terancam makin berdesak-desakan di dalam kereta berikutnya.

Mungkin rencana pergantian kereta ekonomi menjadi AC sedang dilakukan pelan-pelan. Penumpang dibiasakan untuk naik kereta ekonomi yang penuh sesak, karena gerbong pengangkut yang seharusnya 8 diperpendek menjadi 4 saja. Seringkali kereta ekonomi terlambat, atau bahkan dibatalkan perjalanannya. Penumpang terpaksa beralih ke kereta Ekonomi AC yang harganya 2 kali lipat dibanding kereta ekonomi.

Alasan pergantian kereta menurut seorang masinis, karena biaya perawatan kereta ekonomi lebih mahal dan tidak seberapa efektif dalam penghasilan. Padahal kereta ekonomi listrik ini adalah satu-satunya transportasi alternatif bagi rakyat kecil dengan kemampuan finansial terbatas. Disisi lain, memang wajar jika sebuah PT mencari keuntungan dengan mengganti kereta agar penumpang yang biasanya hanya membayar Rp 1000 - Rp 2500 rupiah, jadi membayar Rp 5500 - Rp 11.000.

Namun demikian, bukankah kereta melalui sebuah rel yang membelah jalan dan tanah milik negara? Artinya kereta berjalan di atas ranah publik yang berarti adalah milik rakyat? Atau pemikiran saya ini salah? Dan tanah yang digunakan untuk rel adalah milik sebuah PT? Jika begini maka lain lagi ceritanya.

Tetapi jika memang tanah yang digunakan untuk dilewati jalur kereta memang milik negara, berarti seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyatnya. Minimal untuk rakyat kecil yang hanya mampu membayar harga karcis kereta ekonomi karena penghasilannya yang pas-pasan.

Ah, saya tidak paham. Yang jelas, kereta ekonomi dan para penumpangnya akan selalu dikorbankan dan diperlakukan seenaknya tanpa tanggung jawab dari si empunya penyedia jasa kereta...

Sekali lagi, saya bernyanyi.."Itulah Indonesia! Indonesia tanah airku..."

Senin, 19 Juli 2010

Tempat Bikin Sepatu

Blm lama ini bikin sepatu ke Tanah Abang...Bagus n enak di kaki. Namanya Batavia Shoes

blok A lt 7 Los D, No. 73 Pasar Tanah Abang



Sabtu, 12 Juni 2010

My First 500D Shot

Taman Suropati Chamber

Selasa, 11 Mei 2010

Masalah Sosial di Bojong Gede

Setelah 4 tahun lamanya tinggal di tempat kos, akhirnya saya kembali lagi ke rumah orang tua saya di Bojong Gede, Bogor.

Menurut saya, Bojong Gede masih wilayah pinggiran Jakarta. Wong, nomor telpon rumah saya aja masih (021). Tetapi karena masuk wilayah Bogor, membuat Bojong Gede memiliki budaya campuran Betawi dan Sunda.

Sayangnya meski jaraknya Cuma 1 jam dari Jakarta, namun Bojong Gede banyak sekali ketertinggalannya. Terutama masalah kesejahteraan dan juga pendidikan. Nah berikut urutan masalah-masalah sosial yang terjadi di wilayah tempat tinggal saya, berdasarkan pengamatan.

1.Kemiskinan. Tingkat kesejahteraan masyarakat Bojong Gede umumnya masih rendah. Jika ada orang yang berkecukupan, mereka adalah warga asli yang masih memiliki banyak tanah, atau para pendatang yang umumnya tinggal di komplek-komplek perumahan. Tingkat kemiskinan di Bojong Gede sangat tinggi, karena di daerah kecil seperti ini tidak mudah mencari pekerjaan. Potensi usaha pun kurang menjanjikan. Kalau pun bekerja, upahnya tidak seberapa.

2.Pendidikan rendah. Sebagian besar masyarakat di sekeliling saya tidak mengenyam pendidikan lebih dari Sekolah Menengah Atas. Bahkan masuk SMP saja sudah bagus. Pendidikan tidak menjadi perhatian utama, karena mereka sudah harus berjuang untuk mencari sesuap nasi. Konyolnya, anak-anak yang masih sekolah juga tidak mengerti bahwa mereka harus menjadi siswa pintar agar bisa bermanfaat dikemudian hari. Sekolah seakan hanya menjadi ritual. Biar afdol, kata mereka. Maka saat anak-anak itu memutuskan ingin berhenti sekolah, orang tuanya mendukung, dengan alasan tidak punya biaya.

3.Pengangguran. Angka pengangguran di sini cukup besar. Baik orang tua maupun anak muda usia produktif tidak bekerja. Mencari pekerjaan itu sulit kata mereka. Inilah akibat tidak terpenuhinya pendidikan yang menjadi modal untuk bekerja. Kreativitas mereka pun juga tidak ada. Misalnya, kerjaan Si A adalah tukang bangunan. Namun saat ini sedang tidak ada borongan. Maka dia hanya duduk di rumah. Padahal masih banyak yang bisa dilakukan. Contohnya berjualan jus seperti yang saya lakukan waktu SMA. Toh, sebulan penghasilannn saya mencapi 500 ribu. Itupun dengan modal awal 50 ribu. Akibatnya, banyak yang cuma nongkrong di depan rumah atau duduk-duduk dipinggir jalan dan di pinggir kereta.

4.Pemalas. Rata-rata masyarakat di Bojong Gede adalah penduduk asli yang punya tanah. Karena punya tanah itu, mereka berleha-leha. Kemudian satu-persatu kaplingan tanahpun mereka jual. Lama kelamaan tanah mereka pun habis. Mereka juga mengandalkan pada harta warisan. Akibatnya, saat harta habis, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka terbiasa dengan kemudahan. Tetapi kini jaman berubah, maka nasib mereka pun berubah.

5.Berhutang. Masyarakat disini yang tidak mampu baik penduduk asli maupun pendatang, seringkali berhutang. Suatu hal yang wajar, karena mereka tidak bekerja. Kalaupun bekerja, gaji mereka per bulan tidak lebih dari Rp 500.000. Tapi sampai kapan terus berhutang? Karena sebagian besar tidak bisa mengembalikan.

6.Suka pesta. Bukan hanya masyarakat kota metropolitan saja yang doyan pesta. Masyarakat disini senang kemeriahan. Meski tidak punya uang, mereka akan mencari segala cara untuk bisa merayakan pernikahan, sunatan, ulang tahun, dan lain sebagainya. Padahal uang untuk makan sehari-hari saja tidak ada. Pola pikir mereka, dengan menyelenggarakan pesta maka nama mereka akan harum dan para tetangga tidak akan bergunjing. Dampaknya, hutang berkembang dimana-mana.

7.Mabuk. Tidak hanya anak-anak muda, orang tua disini banyak yang suka mabuk. Meski tidak kerja, mereka memilih mabuk-mabukan untuk melupakan masalah, atau sebagai ajang pergaulan. Yang tua memberi contoh yang buruk, dan generasi mudanya rusak.

8.Pencurian. Disini sering terjadi pencurian. Hati-hati dengan benda yang diletakkan diluar, karena tidak akan aman. Tempat jemur pakaian saja bisa dicuri. Rumah saya pun pernah kemalingan sebuah TV. Padahal waktu itu kami semua sedang ada di rumah.

9.Klenik. Masyarakat asli disini sangat disayangkan, menyukai hal-hal berbau klenik, santet, dan kawan-kawannya. Santet-menyantet itu adalah hal yang biasa. Untuk membuka usaha di wilayah Bojong Gede tidak hanya harus bersaing dengan sesama pengusaha di bidang yang sama. Tetapi juga bersaing dengan ilmu-ilmu hitam. Bahkan, etnis Tionghoa tidak diperbolehkan membuka usaha di wilayah ini. Coba saja silahkan cari pedagang Tionghoa di Bojong Gede, Anda tidak akan menemukannya.

10.Senang ribut. Segala masalah sering diselesaikan dengan keributan baik secara verbal maupun tindakan. Saling memaki adalah hal yang biasa saya dengar. Jika ada satu masalah, maka seluruh keluarga akan turun tangan membela mulai dari memaki, memukul, atau mengancam untuk membunuh.

11.KDRT atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Hal ini seperti lumrah terjadi. Pernah yang paling parah dan saya saksikan sendiri adalah ketika tetangga di depan rumah saya, dipukul dengan bambu panjang oleh Sang suami. Kemudian dibenturkan ke tembok, di pukul lagi dengan tas besar berisi pakaian, lalu dipukul lagi dengan menggunakan sepatu kerja. Gila!

12.MBA. Married By Accident menjadi hal yang biasa. Remaja disini yang usianya bahkan dibawah saya, sudah memiliki anak hasil hubungan di luar nikah. Di RT saya contohnya. Tidak kurang dari 10 orang remaja yang hamil atau menghamili di luar nikah. Saat putus sekolah, mereka kemudian hanya duduk di rumah serta bermain kesana-kemari. Dandan, kemudian nongkrong di keramaian, pada acara dangdutan misalnya. Kemudian kenalan dengan lawan jenis, lalu pacaran. Berduaan di kebun malam, malam, atau di pinggir rel kereta yang tidak terlihat orang adalah pemandangan yang bisa ditemukan di hampir setiap sudut wilayah Bojong Gede.

13.Gossip. Memang gosip itu ada dimana-mana. Tidak terkecuali di Bojong Gede. Menggosipkan orang, memfitnaah, juga hal yang biasa. Kalau kuping tidak tebal, maka bisa emosi jiwa.

14.Ikut campur masalah orang. Nah, ini juga budaya yang salah. Mencampuri urusan orang lain adalah hal yang sulit saya terima. Saya mau menikah tidak dirayakan toh bukan urusan mereka. Tetapi mereka mengatakan bahwa adat disini, pernikahan harus dilaksanakan 2 kali jika memilih menikah di gedung. Oalah...

Saya percaya, nasib itu ada ditangan manusia itu sendiri. Apa yang kita dapat dan kita capai sekarang adalah berkat usaha kita dan pilihan kita. Apakah kita mau memilih maju dengan membuka diri kepada pengetahuan dan budaya? Atau mau terkungkung dengan budaya yang salah dengan imbas berbagai masalah sosial seperti yang terjadi di atas. Transformasi budaya dengan poin utama perubahan pola pikir (mind set), adalah hal pertama yang harus dilakukan.

Namun, bisakah tanpa pendidikan? Inti semua masalah ini adalah pada pengetahuan dan pendidikan. Maka selayaknya kita harus terus meningkatkan pendidikan. Pemerintah pun harusnya menerapkan sistem pendidikan adil yang pro rakyat kecil. Namun dengan korporatisasi pendidikan oleh pemerintah saat ini, kecil kemungkinan masalah sosial, tidak hanya di Bojong Gede, tetapi di Indonesia dapat diselesaikan.

Senin, 10 Mei 2010

Hati-Hati Pakai Polo Shirt


Hati-hati jika mau memakai Polo Shirt untuk jalan-jalan ke Mall. Apalagi jika tidak menjinjing tas. Karena bisa-bisa disangka SPG/SPB yang jaga.

Pengalaman ini pernah kejadian sama saya. Ceritanya disela-sela waktu kerja bersama partner saya, mampirlah kami berdua ke sebuah toko sepatu di Mall Ciputra, Jakarta.

Partner saya memakai pakaian seragam. Sementara saya adalah orang yang tidak suka dengan seragam, oleh karena itu saya lepas seragam saya, dan berganti dengan kaos model polo shirt yang saya bawa.

Nah, supaya nggak ribet nih..Tas saya titipkan sama si Driver yang memilih menunggu di mobil.

Saat saya menemani partner saya memilih sepatu olahraga, tiba-tiba ada yang mencolek punggung saya dan bertanya, "Mbak ini harganya berapa ya?"

Saya: "Mana saya tau..saya kan bukan penjualnya...", dengan tampang sewot
Mas&mba: ngibrit keluar toko tanpa sepatah kata pun...

Oalah, segitu malunya ya Mbak & Mas? Ck..ck..ck..dan partner saya tertawa terbahak-bahak sambil berkata, "Makanya kalo udah ada aturan pake seragam itu jangan dilanggar"..

Huff..

Selang beberapa tahun, ternyata kejadian lagi. Kali ini bukan menimpa saya, tapi orang lain.

Ceritanya begini. Saya dan sahabat saya bersama dengan suami, dan ibu mertua jalan-jalan ke Plaza Senayan. Disana sedang ada sepatu besar-besaran. Jadi nggak heran kalau di Metro PS penuh dengan para wanita-wanita pecinta sepatu.

Setelah berkeliaran kesana-kemari, sahabat saya menemukan sebuah sepatu yang dia suka. Kemudian dia tengok kanan tengok kiri untuk mencari SPB, meminta nomor sepatu yang lebih besar.

Nah, tidak jauh dari dia dan saya, ada seorang laki-laki muda, dengan polo shirt warna hitam, rambut spike, kulit bersih, tampang manis.

Langsung saja sahabat saya bertanya,

Sahabat: "Mas...minta nomor sepatu yang lebih gede dong..."

Mas: "Orang udah ganteng-ganteng gini masih aja disangka tukang jaga sepatu, Mbak..", dengan tampang memelas.

Sahabat: "Oh maaf mas, saya kira yang jaga...Habis masnya berdiri di situ sambil nyari sepatu..."

Mas: "Saya kan cari sepatu buat cewe saya..."

Eno: "Wakakkaka...wakkaka...", dari awal ketawa dan gak bisa berhenti.

Eno: "Makanya mas...kalo ke mall jangan pake kaos model polo shirt kaya gitu. Tampang SPB soalnya sekarang gak kalah kerennya.."

Mas: "Ha ha ha...."


Akhirnya Si mas itu ketawa....
Polo Shirt oh Polo Shirt....

Minggu, 02 Mei 2010

Organiponico: Belajar dari Kuba


Sebagian besar orang di dunia bergantung pada minyak bumi. Minyak bumi dianggap bisa mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Minyak bumi adalah emas. Oleh karena itu segala usaha dilakukan untuk mendapatkan minyak bumi mulai dari ketergatungan kepada impor dari negara lain, hingga perang untuk menaklukan wilayah.

Minyak bumi adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, yang suatu masa nanti akan habis dikonsumsi. Apabila manusia terus saja menggantungkan hidupnya pada bahan bakar minyak dari minyak bumi, maka bencana besar akan datang. Contoh negara yang telah mengalami krisis ekonomi akibat kekurangan bahan bakar minyak adalah Kuba. Kuba merupakan negara pertama yang menghadapi krisis akibat kehilangan pasokan minyak sejak kejatuhan Uni Soviet pada tahun 1990. Tanpa Uni Soviet, Kuba kehilangan lebih dari 50% impor minyak yang berdampak besar pada seluruh aspek kehidupan yang disebut dengan masa Periode Khusus.

Organipónico de Alamar, sebuah film dokumenter menjadi gambaran bagaimana Kuba terkena dampak krisis minyak dan bagaimana dunia nanti akan kehabisan pasokan minyak. Para ilmuan juga memprediksi tahun 2010 ini dunia akan mencapai produksi maksimal minyak yang disebut dengan Peak Oil. Setelah itu produksi minyak bumi akan hilang. Kekuatan komunitas Kuba yang bahu membahu untuk mengatasi krisis dengan cara menggerakan komunitas untuk saling membantu dan bercocok tanam secara organik , mampu menyelamatkan seluruh masyarakatnya dari bencana.

Pada tahun awal krisis, pemerintah Kuba melaksanakan Revolusi Hijau untuk mengatasi kekurangan pangan dan minyak. Revolusi Hijau ini adalah suatu sistem yang menggunakan bahan bakar minyak dalam bentuk gas alam seperti pestisida, dan solar untuk bahan bakar traktor dalam skala besar. Namun sistem ini tidak pernah dapat memenuhi kebutuhan dasar anggota masyarakat karena berorientasi pada perkebunan dan ekonomi terbuka. Kuba mengekspor jeruk, tembakau, tebu tetapi justru mengimpor kebutuhan dasar seperti beras sebesar 55%, juga minyak nabati lebih dari 50%. Penggunaan pestisida dan solar pun justru merusak alam dan menimbulkan pengeluaran biaya yang lebih besar untuk memperbaiki tanah yang rusak karena mikroorganismenya mati akibat karbonmonoksida dari traktor. Tanaman yang dihasilkan juga tidak baik untuk kesehatan karena kandungan pestisida yang sangat tinggi. Oleh karena itu, revolusi hijau ini tidak akan pernah memenuhi kebutuhan masyarakat Kuba.

Oleh karena itu manusia harus mengikuti irama alam sehingga dapat mengambil manfaat darinya, bukan dengan bekerja melawan alam. Dengan bekerja melawan alam, manusia akan menghancurkan banyak energi. Kesadaran masyakat Kuba akan hal ini diwujudkan lewat penggantiani mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar minyak, dengan sapi untuk membajak tanah. Mereka menumbuhkan perstisida alami, penyubur tanah alami sebagai pengganti pupuk kimia dan menciptakan pertanian organik. Trial dan eror terus dilakukan masyarakat Kuba, hingga kedatangan beberapa ahli permakultur dari Australia sejak tahun 1993 untuk mengajarkan permakultur yakni suatu sistem yang dibangun berdasarkan pertanian berkelanjutan yang jauh lebih sedikit mengkonsumsi energi. Bersama-sama dalam komunitas, masyarakat Kuba bahu membahu untuk mengembangkan pertanian.

Sektor pendidikan dan kesehatan tidak luput terkena imbas perekonomian, tetapi hebatnya pemerintah Kuba menggratiskan pendidikan dan kesehatan karena pemerintah sadar bahwa pendidikan dan kesehatan adalah modal untama manusia untuk dapat bertahan dan berkarnya. Pendidikan di Kuba menghasilkan banyak tenaga kesehatan yang dikirim ke luar negeri seperti Venezuela. Venezuela menukarnya dengna membuka impor minyak ke Kuba.

Krisis minyak juga membuka diri masyarakat Kuba untuk mencari sumber energi alternatif dengan menciptakan dan mendayagunakan eneri terbarukan. Organisasi Ecosol Solar dan Cuba Solar membantu mengembangkan pasar konsumsi energi terbarukan, menjual dan merakit sistemnya, melakukan penelitian, mempublikasikan berita informatif, serta melakukan studi tentang efisiensi bagi penggunaan energi dalam sekala besar. Sektor transportasi dan perumahan memang masih terkendala karena dua sektor inilah yang memerlukan lebih banyak bahan bakar. Namun solusi muncul dengan pendekatan inventif, tiap kendaraan besar maupun kecil digunakan untuk membangun sistem sarana trasportasi masal. Sepeda kayuh dan sepeda motor juga didayagunakan menjadi becak. Semua kendaraan bermotor yang ada didayagunakan untuk mengangkut orang-orang di jalan yang hendak berpergian. pemerintah juga mendatangkan jutaan sepeda dari cina yang menjadi transportasi utama di Kuba.


Masyarakat Kuba saling bahu membahu satu orang dengan yang lain. Tidak ada pinjaman atau hutang kepada IMF seperti negara lain. Mereka tidak mengalami ekspansi ideologi barat dan pencucian otak akibat neoliberalisme dan globalisasi. Di saat negara lain mengandalkan fundamentalisme pasar dan standar hidup global maka Kuba saling mengandalkan komunitasnya masing-masinng. Globalisasi ekonomi dengan mengandalkan sektor industri yang diikuti oleh negara berkembang lainnya seperti Indonesia justru merombak tatanan akar tradisi-budaya bangsa (Steger, 2005: 201-202). Akibatnya terjadi penurunan kualitas kehidupan manusia atau dehumanisasi. Lebih parah lagi deideologisasi. Tradisi milik bangsa luntur dan mengadaptasi nilai-nilai kehidupan barat. Industri akan membuka jalan kapitalisme yang makin memuat negara bergantung terhadap negara lain, bahkan hampir tidak mungkin untuk melepaskan diri. Inilah bentuk kolonialisme baru.

Jika Indonesia bisa berkaca kepada pengalaman Kuba, maka seharusnya negara Indonesia dapat berdiri sendiri. Kuba yang awam dengan pertanian mampu merubah kultur budayanya dengan bersatu bersama alam. Jika masyarakat Indonesia mau untuk melakukan hal yang sama seperti Kuba, menerapkan kemandirian dengan mengandalkan sistem pertanian untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan saling membantu sesama masyarakat, maka bukan tidak mungkin masyarakat Indonesia menjadi merdeka dalam arti sebenarnya.Indonesia telah memiliki modal besar yang sebenarnya tidak dimiliki Kuba. Indonesia adalah negara agraris yang sebagian masyarakatnya sudah terbiasa bercocok tanam. Indonesia juga memiliki tanah yang subur yang dapat ditanami oleh tanaman apapun.

Namun seperti yang dikatakan permakulturis dalam Patricia Allison Organipónico de Alamar, “It’s not the technology, it’s human relationships”. Alam Indonesia memang telah menyediakan, tetapi tidak akan berguna tanpa adanya keinginan dan kerjasama antar manusia yakni masyarakat dan juga pemerintah. Akan sangat sulit mengikuti cara masyarakat Kuba untuk bangkit dari keterpurukan dengan beralih kepada pertanian, karena yang bermasalah di Indonesia adalah human relationship yang juga berarti mind set. Untuk bisa seperti masyarakat Kuba maka orang Indonesia terlebih dahulu harus merubah mind set nya. Jika tidak, maka Indonesia harus mengalami kelangkaan minyak seperti Kuba, baru manusianya bisa menyadari bahwa manusia harus mengikuti irama alam sehingga dapat mengambil manfaat darinya.

Tanda-tanda kehilangan minyak sudah terjadi. Konversi minyak tanah ke gas, pasokan listrik berkurang dengan pemadaman bergiliran, perusahaan minyak Pertamina sudah tidak lagi menemukan sumur minyak baru, harga minyak terus naik. Apakah masyarakat Indonesia harus menunggu samapai benar-benar seperti kehancuran ekonomi di Kuba untuk menyadari pentingnya kekuatan komunitas dan pentingnya kembali ke alam?



Sumber: Film Dokumenter, "The Power of Community: How Cuba Survived Peak Oil"

Hati-Hati Jeruk Suntikan



Jeruk adalah buah yang bisa kita makan tanpa harus menunggu musiman seperti buah mangga.Oleh karena itu jeruk adalah salah satu buah yang paling mudah untuk dicari kapanpun. Saat cuaca panas jeruk adalah buah yang tepat untuk disantap karena kesegarannya. Apalagi jeruk memiliki kandungan yang sangat baik bagi tubuh. Selain mengandung vitamin C, jeruk juga bermanfaat sebagai anti oksidan, juga melancarkan pencernaan.

Harga buah jeruk pun cukup terjangkau. Karena di Indonesia sedikitnya terdapat 7 lokasi penghasil jeruk yang cukup besar yaitu Garut, Tawangmangu, Batu, Tejakula, Selayar (Sulsel), Pontianak (Kalbar), dan Medan (Sumut). Belum lagi ditambah kehadiran impor jeruk dari Cina. Sehingga, masyarakat kalangan bawahpun bisa mengkonsumsi jeruk sebagai asupan vitamin.

Sayangnya kini jeruk tidak lagi bisa memberi asupan vitamin yang berarti. Hal ini dikarenakan jeruk yang beredar di pasaran sudah terlebih dahulu diambil sarinya, untuk minuman-minuman dalam kemasan. Memang fakta ini telah lama diketahui. Namun kini jeruk-jeruk yang sudah tidak segar lagi itu, sengaja di jual lagi untuk mendapatkan keuntungan.

Di stasiun kereta yang saya temukan misalnya. Jeruk-jeruk yang dijual pedagang eceran ini sudah tidak lagi ada airnya. Jeruk tersebut mengering. Sepintas jika dilihat memang seperti tidak ada bedanya. Namun jika diperhatikan secara seksama, maka akan terlihat bulatan hitam dengan diameter 0,5 hingga 1 cm berwarna coklat. Di bagian bulatan ini kulit jeruk membusuk akibat dimasuki oleh suatu benda, yakni suntikan.

Tadinya saya berpikir bahwa jeruk ini hanya akan saya temukan pada penjual eceran. Ternyata saya salah, tempat-tempat penjualan buah yang telah menetap pun juga menjual jeruk suntikan seperti ini. Jika dulu jeruk yang disuntik hanya jeruk yang ukurannya besar, maka kini jeruk-jeruk kecil maupun jeruk-jeruk impor pun juga sama.

Lalu bagaimana? Apakah jika kita ingin membeli jeruk lantas harus pergi ke supermarket atau mal-mal besar yang harganya 2 sampai 3 kali lipat lebih mahal? Bagaimana bagi masyarakat bawah yang tidak mampu untuk membeli buah jeruk di supermarket?

Pemerintah sudah seharusnya turun tangan dan melakukan pemeriksaan terhadap buah-buah yang beredar di pasaran, khususnya jeruk yang mudah diambil sarinya. Karena jika tidak, jeruk-jeruk layu yang tidak lagi mengandung vitamin maupun air ini akan terus dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan, dengan membohongi masyarakat.

Hati-hati jika Anda membeli buah jeruk. Tidak hanya di stasiun, di pasar tradional jeruk ini juga beredar luas. Amati kulit jeruk secara seksama, jika Anda temukan bulatan kecil yang membusuk, bisa dipastikan jeruk ini adalah jeruk suntikan.

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya



Rp 50.000,-

Sesuai dengan sub judulnya, 108 Cerita Pembuka Pintu Hati, Buku si Cacing dan Kotoran Kesayangannya ini memang bisa membantu kita membuka pintu hati, untuk menjadi orang yang lebih baik. Di dalam buku ini banyak pelajaran-pelajaran berharga mengenai hidup.

Ada pelajaran hidup mengenai Kesempurnaan dan Kesalaham, Cinta dan Komitmen, Rasa Takut dan Rasa Sakit, Kemarahan dan Pemaafan, Menciptakan Kebahagiaan, Masalah Kritis dan Pemecahannya, dan lain sebagainya.

Ada cerita mengenai ayam dan bebek. Dikisahkan, seorang pasangan pengantin baru tengah berjalan di hutan pada suatu malam musim panas yang indah. Saat mereka menikmati kebersamaan, terdengar suara "Kuek!Kuek" dari kejauhan.

Si istri menyangka itu suara ayam. Sang suami mengatakan itu suara bebek. Mereka berdebat dan berakhir dengan Sang suami membentak Sang istri yang kemudian menangis.

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan teringat mengapa dia menafkahinya. Kemudian suami itu meminta maaf kepada istrinya, sambil berkata kepada istri bahwa dirinya benar. Itu adalah suara ayam.

Moral of the story adalah berpa banyak pernikahan atau hubungan yang hancur gara-gara persoalan sepele. Pernikahan dan hubungan jauh lebih penting daripada mencari siapa benar dan siapa yang salah tentang apakah itu suara ayam atau suara bebek.

Cerita yang lain adalah saat kita melihat diri kita melakukan kesalahan, dan tidak dapat memaafkan kesalahan kita sendiri. Kita hanya terfokus pada kekeliruan yang kita buat. Dalam buku ini dikisahkan seorang biksu membangun sebuah tembok. Ia sangat berhati-hati dan bersabar dalam membangun tembok batu bata itu. Namun ketika selesai, biksu itu melihat ada dia bata yang keliru menyusunnya. Bata itu tampak miring dan terlihat jelek. Ketika akan meruntuhkannya, semennya terlanjur mengeras.

Suatu hari biksu itu membawa pengunjung melihat bangunan tembok tersebut. Kemudian si pengunjung berkata "Itu tembok yang indah". Kemudian biksu itu menjawab, "Tidakkah Anda melihat dua bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?"

Si pengunjung menjawab,  "Ya, saya bisa melihat dua batu bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus." 

Sekarang biksu itu tidak lagi melihat tembok itu terlalu buruk. Tembok itu tetap berdiri, hingga Si biksu bahkan sudah lupa dimana persisnya dua bata jelek itu berada.

Berapa banyak diantara kita yang menjadi depresi atau bahkan ingin bunuh diri gara-gara semua yang kita lihat pada diri kita hanyalah "dua bata jelek"? Pada kenyataannya ada jauh lebih banyak batu bata yang bagus. Namun pada saat itu kita tidak mau melihatnya. Semua yang kita lihat adalah kesalahan, dan kita mengira yang ada hanya kekeliruan semata, karena itu kita ingin menghancurkannya.

Kita semua memiliki "dua bata jelek",  namun bata yang baik dalam diri kita jauh lebih banyak. Begitu kita melihatnya, semua tidak akan tampak buruk lagi. Bukan kita hanya bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita, namun apa yang kita kira sebagai kesalahan bisa menjadi sebuah "ciri unik", ynag memperkaya hidup kita.

Nah, dua cerita adalah bagian dari 108 cerita menarik yang wajib dibaca. Memang, apa yang ditulis didasarkan pada ajaran Budha. Namun, apapun kepercayaan kita, tidak ada salahnya untuk membaca pelajaran hidup yang baik dari kepercayaan lainnya. Pelajaran dari Budha mengenai hidup damai akan sangat baik diterapkan oleh seluruh umat manusia pada saat dunia dilanda kemarahan seperti sekarang ini. Selamat membaca.

Penyimpangan Birokrasi di Masa Orde Baru


Kata birokrasi lebih menjadi konotasi negatif bagi masyarakat di Indonesia ketimbang sebagai organisasi pemerintahan. Birokrasi diidentikan dengan proses kerja bertele-tele, menurut tata aturan, dan mempersulit gerak masyarakat. Hal ini diakibatkan karena penyelewengan fungsi dan peran birokrasi pada masa Orde Baru. Padahal, dalam penyelenggaraan pemerintahan di suatu negara, birokrasi adalah suatu organisasi pemerintahan yang terdiri sub-sub struktur yang memiliki hubungan satu dengan yang lain, yang memiliki fungsi, peran, dan wewenang dalam melaksanakan pemerintahan untuk mencapai suatu misi, dan visi serta program yang telah ditetapkan.

Artinya, birokrasi berperan dalam membantu lembaga eksekutif dalam; pembentukan agenda pemerintahan (agenda-formation); pengambilan keputusan (decision making); pemilihan masalah yang telah diformasikan dalam agenda (instrument choice); penerapan kebijakan (policy implementation), manajemen kebijakan (policy management) dan kebijakan pemasaran (policy marketing), evaluasi kebijakan (policy evaluation), serta pengawasan kebijakan (policy monitoring).

Namun peran evaluasi dan pengawasan kebijakan inilah yang sama sekali tidak berjalan pada masa pemerintahan Soeharto. Birokrasi mendapat peranan yang sangat dominan tanpa bisa dikontrol dalam menetapkan kebijakan pembangunan. Akibatnya lahirlah hubungan patrimonial dalam sturktur birokrasi di Indonesia, yang merupakan warisan dari nilai-nilai budaya di masa lalu. Semboyan abdi negara bagi pegawai negeri memiliki arti seperti hubungan pada kerajaan dimana seorang abdi harus menyembah kepada rajanya dan tidak memiliki kekuatan yang berarti. Birokrasi bukannya menjadi pelayan masyarakat seperti seharusnya, tetapi justru menjadi pelayan dari kekuasaan yang ada diatasnya. Mengapa? Karena Orde baru menggunakan birokrasi ini sebagai mesin penggerak dalam menjalankan program-program pembangunan ekonomi yang tanpa hambatan.

Oleh karena itu, partai politik yang dianggap sebagai sumber hambatan dan ketidakstabilan dibatasi kekuasaannya, terutama dalam birokrasi. Salah satunya dengan mengeluarkan Permendagri Nomor 12 Tahun 1969 yang menyebutkan bahwa anggota departemen hanya boleh memberikan loyalitas kepada negara dan bangsa, bahkan melarang mereka untuk masuk parpol dan PP Nomor 6 tahun 1970, yang melarang semua pegawai negri termasuk anggota ABRI terlibat dalam kegiatan-kegiatan partai dan menuntut adanya loyalitas tunggal (monoloyalitas) terhadap pemerintah.

Dengan monoloyalitas ini pemerintah menjadi lebih mudah menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai dan mempertahankan kekuasaan. Birokasi bersama militer dan Golkar kemudian menjadi alat kontrol masyarakat yang sewenang-wenang. Golkar dan birokrasi menjadi alat untuk mengumpulkan elit potensial sementara birokrasi bersama ABRI juga digunakan untuk mengawasi kegiantan masyarakat yang harus tuntuk kepada kebijakan Orde Baru.

Birokrasi dengan Korpri yang harus masuk Golkar mendapat jatah yang besar dalam pemerintahan. ABRI pun juga mendapat kursi gratis dengan ditujuk oleh pemerintah. Begitu besarnya kekuatan Orde Baru karena dukungan dari birokrasi, Golkar serta militer, sehingga dengan sendirinya fungsi pengawasan kebijakan dan evaluasi kebijakan pemerintahan tidak mungkin dilakukan. Setiap orang yang kritis terhadap kebijakan pemerintahan kemudian disingkirkan. Kondisi birokrasi ini adalah “Jaksonisasi” yakni mengakumulasikan kekuasaan negara melalui birokrasi, dan menyingkirkan kekuatan politik di luar birokrasi dari kekuasaan dan proses politik.

Kesewenang-wenangan birokrasi di masa Orde Baru berakibat munculnya praktek
korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tanpa pengawasan, birokrasi tidak hanya melakukan korupsi APBD milik rakyat tetapi juga melakukan pemerasan. Bukan rahasia lagi pada masa Orde Baru, untuk mengurus KTP, SIM, Paspor, surat tanah, dan berbagai dokumentasi resmi lainnya serta pereizinan, dipungut biaya tidak resmi. Mulai dari birokrasi tertinggi yakni departemen hingga level paling bawah yakni RT/ RW.

Kolusi yakni kerja sama melawan hukum antar penyelenggara negara atau antara penyelenggara negara dan pihak lain yang merugikan orang lain dan masyarakat juga menjadi hal yang lumrah. Pembukaan hutan untuk kepentingan swasta yang mendapat izin dari pemerintah, dengan imbalan dari pihak swasta terjadi dimana-mana sehingga merusak alam Indonesia. Musim haji pun dimanfaatkan oleh pemerintah bersama dengan agen untuk mempermainkan kuota, misalnya dengan mendahulukan mereka yang mau membayar lebih besar dan memberi uang pelicin kepada pemerintah.

Disamping itu, nepotisme yaitu tindakan atau perbuatan yang menguntungkan kepentingan keluarga atau kroni di atas kepentingan masyarakat, bangsa dan negara juga sangat mengakar. Untuk menjadi bagian dari birokrasi misalnya, diperlukan orang dalam atau harus membayar uang dalam jumlah besar. Karenanya, para birokrat ini pun pada akhirnya akan berusaha mendapat lebih dengan cara melakukan korupsi dan korupsi. Ketiga praktek ini bagaikan lingkaran setan yang sulit untuk diputus.

Oleh karena itu pasca Orde Baru sekarang ini diharapkan akan tercipta reformasi birokrasi yang ideal sesuai dengan “Weberisasi” yakni membangun demokrasi yang efisien, impersonal, rasional, berorientasi pada public service, dan non partisan atau berdasarkan prinsip netralitas birokrasi, dan profesional.

Shattered Glass: Must Watch!


Film Shattered Glass mengangkat tema mengenai seorang jurnalis muda berbakat bernama Stephen Glass yang mampu membuat cerita fiksi untuk mendapatkan berita yang besar dan membuatnya terkenal.

Shattered Glass yang diangkat dari kisah nyata ini mengambil setting kantor majalah The New Republic. Pada tahun 1998, The New Republic meraih kesuksesan, dengan jurnalis bernama Stephen Glass (Steve) sebagai salah satu andalannya. Artikel jurnalistiknya yang mendalam dan gaya penuturan yang enternaining, membuat para pembaca koran dan majalah Amerika terpikat dengan artikel-artikel yang ditulis Steve.

Sosok pribadi Glass yang ditampilkan di awal film adalah sebagai seorang jurnalis muda rendah hati dan mampu mengambil simpati rekan-rekannya baik melalui pujian, maupun sikapnya yang selalu bersedia menolong. Tidak terkecuali pada Chuck Lane yang diangkat sebagai editor baru. Chuck menggantikan editor sebelumnya Michael Kelly yang dipecat karena dianggap melawan atasannya.

Sebagai editor baru, Chuck dinilai tidak pantas menduduki kursi editor oleh anak buahnya, yang sangat menghormati editor sebelumnya. Namun demikian, Glass tetap menampilkan sikap baik terhadap Chuck. Sayangnya sikap Glass ini tidak berarti apa-apa saat tulisan fiktifnya mulai terbongkar.

Bencana bagi Glass bermula lewat artikelnya yang menjadi sangat populer yakni “Hack Heaven”. Hack Heaven adalah artikel mengenai seorang hacker anak-anak yang digandeng oleh pengusaha hebat untuk melakukan manipulasi. Artikel tersebut mengundang perhatian editor media internet Forbes Digital Tool, Kambiz Foroobar. Kambiz mempertanyakan kegagalan jurnalisnya Adam Panenberg kerena melewatkan sebuah berita bagus mengenai hacker seperti yang ditulis Steve.

Adam kemudian membaca artikel “Hack Heaven” yang ditulis Glass dan menaruh kecurigaan. Adam kemudian melakukan verifikasi lewat internet untuk mencari nama-nama tokoh serta perusahaan yang dituliskan Steve. Adam menemukan bahwa artikel tersebut adalah fiktif, dan melaporkannya kepada Kambiz.

Penelusuran ini berlanjut dengan menghubungi editor The New Republic, Chuck. Chuck yang dimintai kontak orang-orang dan perusahaan yang ada di dalam artikel “Hack Heaven”, kemudian menghubungi Steve. Sadar kebohongannya terancam, Stephen Glass melakukan berbagai cara untuk membuat situs dan nomor telfon fiktif, hingga menggunakan saudaranya untuk menyelamatkan diri. Manipulasi Glass tersebut sempat membingungkan para jurnalis Forbes. Naas, ternyata Chuck sebagai editor yang bertanggung jawab terhadap artikel tersebut mulai curiga, namun masih tetap berusaha untuk melindungi jurnalisnya.

Kemudian Chuck melakukan klarifikasi yakni mempertemukan Glass dengan para jurnalis Forbes yakni Kambiz, Adam, dan Andie lewat konferensi jarak jauh. Posisi Glass terpojok karena interogasi Adam Panenberg yang meminta penjelasan mengapa alamat email yang diberikan fiktif, serta nomor telepon yang dihubungi selalu dijawab oleh mesin penjawab. Glass yang panik kemudian mengaku bahwa ia ditipu oleh para narasumbernya. Namun Forbes bersikeras tetap akan mempublikasikan berita mengenai cerita fiktif Glass.

Meski curiga, sebagai editor, Chuck masih terus berusaha mencari kebenaran untuk melindungi jurnalisnya. Chuck mengajak Stephen Glass pergi ke tempat-tempat yang disebutkan dalam artikelnya untuk mencari narasumber yang disebutkan dalam tulisannya. Namun ternyata tempat yang dideskripsikan Steve hanya fiksi. Saat itu Chuck akhirnya yakin bahwa Stephen Glass mengarang cerita.

Kebohongan besar ini membuat Chuck berencana memecat Stephen Glass. Namun berbagai tekanan dari pihak internal mulai dari atasan hingga rekan kerja, memaksa Chuck hanya menjatuhkan skorsing selama 2 tahun. Chuck yang tidak puas terus meminta Steve untuk berkata jujur, namun Steve tetap bersikeras bahwa dia adalah korban yang telah dibohongi oleh narasumbernya.

Chuck lantas membuka karya-karya Stephen Glass di edisi The New Republic sebelumnya, dan menyadari bahwa ternyata artikel-artikel yang ditulis Steve sangat janggal. Chuck pun akhirnya yakin bahwa artikel yang selama ini ditulis oleh Stephen Glass banyak dikarang.

Artikel Adam Panenberg mengenai skandal kebohongna Stephen Glass akhirnya muncul, dan disambut sebagai gebrakan dalam jurnalisme intenet. The New Republic kemudian menulis permintaan maaf kepada pembacanya, serta mengakui bahwa 27 dari 45 artikel yang ditulis Sthepen Glass hanya fiktit belaka.


ANALISIS

Film Shattered Glass ini adalah pembelajaran yang sangat baik mengenai kegiatan jurnalis seperti apa yang seharusnya dilakukan. Isu besar yang diangkat dalam film Shattered Glass adalah kewajiban pertama jurnalisme pada kebenaran dan intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi.

Inti kegiatan jurnalisme untuk mendapatkan fakta adalah terus melakukan verifikasi. Oleh kerena itu tidakan yang dilakukan oleh editor The New Republic dan Forbes untuk mencari fakta dengan melakukan cek dan ricek terus menerus adalah tepat.

Apa yang dilakukan oleh Stephen Glass jelas telah melanggar aturan utama jurnalisme yang seharusnya adalah menyampaikan kebenaran berupa fakta. Glass, tidak hanya tidak menyampaikan fakta namun berbohong dengan mengarang cerita. Setiap kegiatan jurnalisme harus bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Oleh karena itu kegiatan jurnalistik harus mengacu kepada kebenaran. Namun kebenaran ini adalah sebuah kebenaran yang senantiasa terus dicari yakni dengan verifikasi.

Stephen Glass, untuk merealiasikan ambisinya menulis cerita yang hebat, membuat dirinya mengesampingkan nurani. Kejujuran adalah tanggung jawab terhadap nurani. Seharusnya nurani individu dapat menekan seorang jurnalis untuk selalu menyampaikan kebenaran.

Dalam film Shattered Glass ini, Stephen Glass jelas melanggar prinsip Sembilan Elemen Jurnalisme Bill Kovach yang pertama yakni kewajiban jurnalisme adalah pada kebenaran. Kedua, loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat. Ketiga, intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Kesembilan, wartawan memiliki tanggung jawab terhadap nurani.

Dalam film Shattered Glass ini beberapa scene khayalan Stephen Glass yang memberikan kuliah di depan kelas, merupakan cara bagi pembuat film untuk memasukkan kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh seorang jurnalis. Scene-scene ini menjadi perbandingan antara apa yang seharusnya dilakukan seorang jurnalis, dan apa yang dilakukan oleh Stephen Glass.

Glass:
“your work can actually influence public policy. Now, journalism is about pursuing the truth” (pada menit 00:08:35- 00:08:40)
Glass:
“And I would never encourage you to do anything sneaky or dishonest”
(pada menit 00:09:18 - 00:09:21)

Kalimat yang dikatakan Glass dalam khayalannya di depan mahasiswa ini telah menjelaskan bahwa Jurnalisme adalah mengenai kebenaran. Hal ini sesuai dengan prinsip pertama dari 9 elemen prinsip jurnalisme Bill Kovach. Kegiatan jurnalisme dapat mempengaruhi kebijakan publik. Namun demikian, Stephen Glass jelas melanggarnya.

Glass:
“A story comes in, and it goes to a senior editor. He, or she, edits it on computer, then calls in the writer, who makes revisions. Then the piece goes to a second editor, and the writer revises it again. Then it goes through a fact-check, where every fact in the piece--every date, every title, every place or assertion is checked and verified. Then the piece goes to a copy editor, where it is scrutinized once again. Then it goes to lawyers, who apply their own burdens of. proof. Marty looks at it too. He's very concerned with any kind of. comment the magazine is making. Then Production takes it, and lays it out into column inches and type. Then it goes back on paper, then back to the writer, back to the copy editor, back to editor number one, and editor number two, back to the fact-checker, back to the writer, and back to Production again. Throughout, those lawyers are reading and re-reading” (Pada menit 00:49:10 - 00:49:57)

Pernyataan Stephen Glass diatas merupakan proses produksi sebuah berita yang harus melalui banyak pihak untuk dicek dan ricek terus menerus. Tetapi Chuck sebagai editor tidak teliti dalam melakukan pengecekan, yang seharusnya mudah dilakukan lewat bantuan internet. Bahkan jika diperhatikan di salah satu adegan, seorang pegawai perempuan bernama Gloria di The New Republic mengatakan seharusnya Chuck bisa mengecek kebenarannya lewat adanya foto, yang memang tidak ada dalam artikel Glass. Dalam dialog ini sebetulnya terdapat kesalahan fatal dari seorang editor. Seharusnya editor tulisan Stephen Glass turut mendapat sanksi karena kelalaiannya. Berikut kutipan dialog Gloria dengan Chuck di menit 01:23:58 - 01:24:11)

Gloria: you know what could've prevented
all this, don't you?

Chuck: No. What?
Gloria: Pictures. How could you make up characters if everyone you wrote about
had to be photographed?


Memang benar menurut Glass bahwa ada lubang dalam sistem verifikasi dimana ada keterbatasan narasumber. Oleh karena itu, informasi yang ada hanyalah catatan yang dimiliki oleh seorang jurnalis.

Glass:
“There's a hole in the fact-checking system. A big one. The facts in most pieces can be checked against some type of source material. If an article's on, say, ethanol subsidies, you could check for discrepancies against the Congressional Record, trade publications, LexisNexis. But on other pieces, the But only source material available are the notes provided by the reporter himself. (Menit 00:50:18 - 00:50:21)

Dengan begitu, catatan menjadi sangat penting. Tetapi disisi lain catatan seorang jurnalis sebagai sumber informasi satu-satunya juga bisa menjadi celah bagi jurnalis seperti Stephen Glass untuk membuat cerita fiktif. Cara antisipasinya bisa menggunakan tape recorder dan foto, sebagai alat bukti informasi dari nara sumber.

Disamping isu besar mengenai kebenaran dan verifikasi, film Shattered Glass ini sebenarnya juga memasukkan isu-isu kecil yang terjadi dalam praktek nyata kegiatan jurnalisme.

Pertama, tidak menutup kemungkinan banyak media yang melakukan praktek seperti Stephen Glass. Diangkatnya cerita mengenai Stephen Glass adalah karena sebenarnya praktek kebohongan ini marak terjadi dalam dunia jurnalisme, namun menjadi hal yang terselubung dan ditutupi. Pesan yang disampaikan flm Shattered Glass adalah bahwa masyarakat tidak seharusnya langsung mempercayai isi berita yang ada dalam sebuah media. Masyarakat harus jeli dan melakukan penelusuran kepada berbagai sumber berita, sebelum mempercayai kebenarannya.

Isu kedua, bagaimana kekuasaan amat menentukan pengambilan keputusan dalam sebuah redaksi berita. Editor Michael Kelly, dipecat oleh bosnya Marty, karena melakukan pembelaan terhadap para jurnalisnya. Meski Michael sangat disegani oleh para jurnalis dan merupakan pimpinan yang baik, namun tetap tidak mampu menyelamatkannya dari campur tangan kekuasaan atasan maupun pemilik media.

Begitu pula dengan editor baru Chuck Lane. Saat ingin memecat Stephen Glass, Chuck mendapat tekanan juga dari atasan sebagai pihak yang berkuasa. Chuck pun mau tidak mau harus menurut kepada atasan dengan hanya memberikan hukuman 2 tahun skorsing, meskipun pada akhirnya Glass dipecat karena terbukti menulis cerita fiktif. Kekuasaan baik dari atasan maupun pemilik media merupakan isu yang nyata ada di dalam dunia media. Oleh karena itu terkadang jurnalis tidak hanya harus berjuang di lapangan untuk membuat berita, tetapi juga harus memperjuangkan prinsip melawan hegemoni kekuasaan.

Ketiga, diceritakan dalam dialog Chuck dengan Caitlin, bahwa Stephen Glass hanya tidur sekitar 2 jam dalam 9 bulan terakhir. Artinya, seorang jurnalis bekerja dibawah tekanan waktu yang luar biasa, dan beban pekerjaan yang besar, juga praktik politis media tempatnya bekerja. Oleh karena itu tekanan ini yang membuat banyak jurnalis untuk menghalalkan segala cara demi menciptakan berita besar yang akan membuat namanya populer sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka atau bahkan hanya sekedar untuk dapat bertahan di tempatnya bekarja. Masalah ini tidak dipungkiri memang terjadi dalam praktek jurnalisme yang sebenarnya.

Kesimpulannya, para jurnalis seharusnya bekerja dengan mengedepankan prinsip dan kode etik jurnalisme untuk menyampaikan kebenaran sebagai tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Namun demikian masyarakat juga harus jeli dalam mengkonsumsi berita, sehingga berita yang dibuat oleh para jurnalis dapat memberikan manfaat kepada seluruh kepentingan masyarakat.

Rabu, 20 Januari 2010

Giorgio Armani Pernah Membuat Sepatu-sepatu di Indonesia

Saya memang sengaja mengambil artikel dari www.swa.co.id ini sebagai inspirasi bagi mereka yang doyan belanja merek-merek luar negeri. Ternyata, oh ternyata, Giorgio Armani pesan pembuatan sepatunya di Indonesia...

Sukses dari Sepatu Kulit
Ditulis oleh arinosan
Senin, 02 November 2009 16:12

Produknya telah menembus pasar Eropa. Armani pun memesan darinya. Inilah jatuh- bangun anak Tasik merenda bisnis.

Fokus. Itulah pilar kesuksesan Dede Chandra mengembangkan bisnis sepatu. Sejak mengibarkan CV Fortuna Shoes (FS) pada 1968, dia memang selalu fokus: menggarap sepatu kulit segmen premium. Dan dia sukses dengan cara itu. Memproduksi 40 ribu pasang setahun, sepatunya menembus negara maju seperti Belanda, Jerman, Prancis dan Italia.

Perjalanan bisnis ini tidak diperkirakan sebelumnya. “Saya masuk ke bisnis sepatu ini tidak sengaja,” ujar Dede, pria kelahiran Tasikmalaya 69 tahun lalu. Setelah ditinggal mangkat ayah dan ibunya, Dede kecil (12 tahun) hidup bersama pamannya di Bandung. Sang paman adalah pembuat sepatu perempuan dewasa dan menjualnya di toko miliknya, Rofina.

Hidup bersama paman yang pebisnis sepatu membuat Dede menggeluti urusan serupa. Dia membantu sang paman, dari pekerjaan ringan hingga mengurusi pemasaran. Merasa sudah mampu dan ingin mandiri, selepas SLTA, dia menggulirkan bisnisnya sendiri. Berdirilah FS di sebuah rumah kontrakan di Lengkong Kecil, Bandung, yang mempekerjakan tiga karyawan.

Seperti pamannya, Dede menggeluti sepatu kulit. Bedanya, dia fokus pada sepatu anak perempuan usia 5-12 tahun. Selain belum banyak pesaing, “Saya tak mau mengambil pasar Paman,” katanya.

Pilihan ini tak keliru. Tahun pertama berdiri, banyak toko sepatu tertarik menjual produknya karena bahan baku kulitnya lebih empuk dibandingkan sepatu anak yang ada. Dede mengenang, ketika menggulirkan usahanya, tiap Jumat sebelum adzan Subuh dia di Stasiun Kereta Bandung. Berangkat ke Jakarta, dia mendarat di Proyek Pasar Senen. Pukul 07.00, sebelum toko-toko di Proyek Senen dibuka, dia menyiapkan 25 pasang sepatu untuk ditawarkan.

Sambutan pedagang Senen sangat baik. Tak mengherankan, rutinitas seperti itu terus berlanjut sampai beberapa tahun. Jumlah produksi pun meningkat. Di tahun kedua, 50 pasang. Dan seiring dengan itu, Dede membuat sepatu anak lelaki usia 5-12 tahun.

Diakui Dede, pesatnya usaha FS turut dipengaruhi bersatunya dua kekuatan sepatu di Bandung. Pasalnya, pada 1970 dia menikahi putri pemilik toko sepatu ternama di Kota Kembang. Orang tua Faleria Wijaya, istri Dede, adalah pemilik toko sepatu Shensen yang terkenal sejak zaman Belanda. “Tahun itu dahsyat sekali karena kami bisa bekerja berdua," ucapnya bersemangat. Kapasitas pun meningkat sampai 250 pasang sepatu.

Namun, empat tahun kemudian malang tak bisa ditolak. Pasar Proyek Senen terlalap si jago merah, dan Dede terkena imbasnya. Banyak toko pelanggannya menunggak pembayaran. Akan tetapi, itu tak memukulnya terlalu lama. Terbakarnya pasar Proyek Senen membuatnya mengarahkan produknya ke Pasar Baru, Jakarta. Dan terbukti pilihannya tak keliru. Di sini dia justru makin moncer sehingga bisa melebarkan pasar ke wilayah lain di Jakarta seperti Pancoran dan Cipete.

Tahun 1975 Dede membeli mesin jahit sepatu paling mutakhir dari Jerman. Keberadaan mesin ini menandai era baru karena sebelumnya FS menggunakan mesin jahit konvensional dengan ayunan kaki. Di tahun itu pula Dede dilibatkan memasarkan sepatu produksi toko Shensen, merek Robin Hood (RH), yang persebarannya hingga Makassar. Toko Shensen sendiri sudah tenar dengan Goodyear Welted System (GYWS) yang menghasilkan sepatu yang nyaman, tahan banting dan awet.

Waktu terus berjalan. Tahun 1995 menjadi momen emas dunia sepatu Tanah Air, tak terkecuali FS. Memiliki 300 karyawan, Dede sudah mampu mengekspor beberapa jenis sepatu kulit, termasuk sepatu golf yang dipasarkan ke Jepang dengan merek Puccini. Sayang, badai krisis moneter datang memukul industri sepatu. Dede pun kena dampaknya. Padahal, dia baru memindahkan pusat produksi ke pabrik baru yang lebih luas, 4.000 m2, di Jl. Sriwijaya, Bandung. “Semuanya habis. Ekspor sempat berhenti,” ujarnya mengenang.

Tak mau limbung, Dede mencoba berpikir positif dan justru mengisi dua tahun krisis untuk belajar cara pembuatan sepatu berbasis GYWS. Namun, upaya memasarkan hasil teknologi ini tak mulus. Dia sempat mencoba ekspor ke Taiwan, tetapi hanya berlangsung dua kali. “Bahan baku lokal yang saya gunakan dianggap tak sesuai standar walau sebenarnya sama bagusnya.”

Tak patah arang, Dede mengimpor bahan baku kulit dan material lain dari Eropa. Dia juga menjadikan Eropa yang telah terbiasa dengan produk GYWS sebagai pasarnya. Dan nasib baik menemaninya. Pemesan berdatangan dari Belanda, Jerman dan Prancis. Yang menarik, dia kemudian diminta memproduksi sepatu dengan merek pesanan importir. Antara lain, Van Bommel, Prime Shoes, Oehler dan Bexley. “Tapi hampir semuanya dicap 'made in Indonesia',” katanya. Bahkan, pernah beberapa kali desainer terkemuka dunia, Giorgio Armani, mengorder sepatu ke FS. “Tapi tidak mau disebutkan made in Indonesia,” ujar Dede seraya tersenyum geli.

Ada pengalaman menarik lain. Seorang pejabat dari kabinet Indonesia Bersatu pernah tertarik membeli sepatu Prime Shoes di Jerman. Jika dikurs rupiah, harganya sekitar Rp 4 Juta. “Pejabat itu kaget sekali begitu membaca ada cap 'made in Indonesia' di bawah sepatu. Begitu sampai di Indonesia, dia menyempatkan berkunjung ke pabrik saya dan sampai sekarang menjadi pelanggan loyal,” papar Dede.

Dari sisi harga, produk FS memang cukup premium. Meski demikian, sebenarnya masih lebih murah dibanding produk selevel buatan Eropa. Sepatu dengan teknik yang sama di Eropa dibanderol Rp 4-5 juta. “Kalau beli di sini, hanya Rp 1,5 Juta,” katanya. Dia akui, bagi masyarakat Indonesia, produknya terbilang sangat mahal.

Yang jelas, sejak order ekspor dari Belanda datang, negara Eropa lain ikut memesan. Produksi sepatu Dede dengan pola GYWS yang dimulai pada 1997 itu pun terus meningkat kapasitasnya dari tahun ke tahun. Sejak 2004 pabrik Dede mampu berproduksi sampai 40 ribu pasang/tahun. “Sampai sekarang produksi masih berada di kisaran angka itu,” ujarnya. Dede menargetkan tahun depan bisa mencapai produksi lebih dari 40 ribu pasang.

Mengapa FS tidak memasarkan merek sendiri ke Eropa? “Kalau untuk ekspor sepatu dengan sistem GYWS, jika belum punya nama, kita tidak bisa jual mahal,” Dede memberi alasan. Namun, untuk Jepang, dia mengekspor dengan merek sendiri: Fortuna Shoes.

Kendati dalam negeri bukan pasar utama, banyak orang Indonesia mengenal dan mengapresiasi FS. Bahkan, tahun lalu FS memperoleh penghargaan bidang Rintisan Teknologi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dede benar-benar melejit di sepatu kulit.

Di dalam negeri, produk-produk FS antara lain dijual di galeri sepatu Eternity, Bandung. Astri Budiarti, karyawan Divisi Penjualan Eternity, menjelaskan bahwa penjualan produk FS di galerinya cukup bagus. “Dalam sebulan ini lebih dari 10 pasang terjual,” katanya. Ada empat merek sepatu FS yang dijual di Eternity: Red Rum, Van Bommel, Lederer dan Quarvif.

Dari perjalanannya menggeluti bisnis sepatu kulit ini, Dede menyimpulkan bahwa agar bisa bertahan, ada tiga hal terpenting yang mesti dilakukan. Pertama, mengamankan bahan baku. Mendapatkan kulit tak semudah karet PVC sepatu olah raga. Hanya ada tiga negara penghasil bahan baku. Komponen bahan baku sepatu FS kebanyakan diimpor. Ada yang solnya dari Italia, kulitnya dari Prancis dan material lain dari Belanda. Komponen impor yang tinggi ini memengaruhi harga jual.

Kedua, menguasai teknologi. FS memiliki 43 jenis mesin yang dibeli satu per satu dan merupakan satu-satunya pabrik sepatu di Indonesia yang memiliki mesin pemotong kulit terintegrasi dengan komputerisasi. Satu mesin pemotong kulit, misalnya, dibelinya dari Swiss seharga Rp 1 miliar.

Ketiga, harus berani nekat. Dia memberi contoh saat dirinya mendirikan pabrik di Jl. Soekarno-Hatta, Bandung, seluas 6.000 m2. Contoh lain, dia pernah ikut berpameran di Tokyo yang hasilnya belum jelas dengan biaya Rp 270 juta. “Saya nekat saja, waktu pameran hanya ada order 25 pasang. Tapi saya percaya dampaknya. Dan memang betul, seminggu setelah ekspor pertama, datang pesanan bertubi-tubi hingga ratusan pasang,” paparnya.

Budi W. Soetjipto, pemerhati bisnis dan manajemen dari Universitas Indonesia, melihat apa yang dilakukan Dede sudah bagus. Hanya saja, untuk mengembangkan usahanya, dia menyarankan agar Dede terus membesarkan mereknya sendiri. Caranya: memasukkan mereknya ke gerai-gerai, di negara tujuan ekspor maupun di Indonesia. “Lebih bagus lagi jika membangun outlet miliknya sendiri. Langkah ini cukup penting supaya tidak melulu menjadi tukang jahit merek sepatu impor,” katanya.

Dengan cara itu, masyarakat Eropa akan tahu kualitas merek FS tak kalah dari merek premium yang sudah dikenal dunia. Budi melihat FS kini telah berada pada fase peralihan dari imitasi ke inovasi. “Yang penting, terus menguasai teknologinya dan membuat desain sendiri.”

Saran di atas jelas sangat masuk akal meski memiliki risiko tersendiri. Barangkali bukan Dede yang mewujudkannya, melainkan generasi berikutnya. Dede yang hingga kini masih datang ke kantor untuk memastikan manajemen berjalan sesuai dengan rencana memang telah menempatkan anak dan menantunya dalam operasional FS. ***



Sumber: www.swa.co.id
 
Template designed using TrixTG